Laman

PLEASE YANG COPY-PASTE DARI BLOG, TOLONG DICANTUMKAN ^_^

Jumat, 18 Januari 2013

Laporan PENGENALAN FUNGISIDA


PENGENALAN FUNGISIDA
(Laporan Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan)




Oleh

Adawiah
















I.                   PENDAHULUAN


1.1  latar Belakang


Dalam membudidayakan tanaman tidak terlepas dari hama dan penyakit yang menyerang tanaman tersebut.  Hama dan penyakit yang menyerang tanaman berbeda-beda sesuai dengan jenis dan varietas dari tanaman yang ditanam.  Untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang biasanya menggunakan pestisida.  Pestisida adalah semua bahan yang dapat mempengaruhi kehidupan organisme kehidupan mikroorganisme, atau pestisida adalah semua bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya. 

Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan jenis sasaran, bentuk fisik, bentuk formulasi, cara kerjanya, cara masuk, golongan senyawa, dan asal (bahan aktif).  Fungisida merupakan salah satu pestisida yang berdasarkan jenis sasaran,  Fungisida sasaran utamanya ialah jenis cendawan.  Umumnya cendawan berbentuk seperti benang halus yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun, kumpulan dari benang halus ini yang disebut miselium bisa dilihat dengan jelas. Dalam pengendalian cendawan patogen di gunakan senyawa kimia fungisida tersebut. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi).
Pengendalian yang sering digunakan oleh petani adalah dengan menggunakan fungisida, karena sampai saat ini belum ada tanaman cabai merah yang tahan terhadap antraknosa. Prinsip penggunaan fungisida didasarkan pada prinsip antibiotik terhadap tanaman. Prinsip lainnya yang berpotensi untuk
mengendalikan penyakit yaitu penggunaan bahan kimia sintetik yang mampu memicu ketahanan tanaman.


1.2  Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain:
1.  Memahami tentang pentingnya label fungisida agar: (a). penggunaan
      fungsidadilakukan secara benar dan tepat; (b). menghindari munculnya
      berbagaidampak yang muncul akibat penggunaan fungisida
2.  Mengerti semua informasi yang tercantum pada label fungisida
3.  Terlatih membaca label fungisida sebelum menggunakannya












II.                   METODE PERCOBAAN


2.1  Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan adalah alat tulis dan sepuluh macam jenis fungisida



2.2  Cara Kerja


Disiapkan alat tulis untuk mencatat, terdapat sepuluh jenis fungisida dengan bermacam-macam kegunaan dan fungsi.  Setiap macam fungisida tersebut dilihat label yang berupa; nomor pendaftaran, bahan aktif, petunjuk penggunaan, tanda bahaya, dosis atau konsentrasi, cara pemakaian, dan  komposisi dalam fungisida tersebut.  Kemudian catat setiap data yang tercantum di dalam label tersebut.











I.                   HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1  Hasil Pengamatan


No
Nama Fungisida
Keterangan
1.
Cupravit OB 21
Bahan aktif                 :           Tembagaoksiklorida 50%
No pendaftaran           :           RI. 87/01-90/T

Cuprafit OB 21 adalah fungisida yang bersifat fungistatik berbentuk bubuk bewarna biru kehijauan yang dapat disuspensikan dalam air untuk mengendalikan penyakit pada tanaman anggur, cabai merah, jeruk, kacang tanah, kakao, kentang, kopi, panili, teh, tembakau dan tomat

tanaman
penyakit
dosis
Waktu penyemprotan
Anggur
Embun bulu
(Plasmopora vitcola)
1,5-39/I
Bila ada serangan interval 1 minggu
Cabai merah
Antraknosa, bercak daun
1-2 g/I
Bila ada serangan interval 1 minggu
kakao
Busuk buah
4 g/I
Bila ada serangan interval 1 minggu
jeruk
Tepung
(Oldium tingitanium)
4 g/I
Bila ada serangan interval 5-7
c

Bercak daun
Cercospora

5 g/l
Bila ada serangan interval 
kopi
Karat daun
Heimileia
vastatrix
4 g/l
Bila ada serangan interval 1 minggu
panili
Busuk batang
4 g/l
Bila ada serangan interval 1 minggu




Teh
Cacar daun
Exobasidium vexana
300 g/ha
Bila ada serangan interval 1 minggu
2
Ridomil Fungisida
Tipe                             : 35 SD
No Pendaftaran           : RI 450/9-90/T
Bahan Aktif                : Metalaksil 35 %
Berat Bersih                : 20 x 5 gram

Fungisida sistemik , berbentuk tepung berwarna merah muda digunakan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit bulai sclerospora maydis pada tanaman jagung dengan cara perlakuan benih

Petunjuk Pengunaan :
Tanaman
Penyakit
Dosis formulasi dan cara penggunaan


Jagung
Penyakit bulai sclerospora maydis
5 gram ridomil 35 SD dilarutkan dengan 7,5 ml air per kg benih jagung, kemudian campur merata sampai menutup seluruh permukaan benih jagung. Kemudian benih tersebut dikeringkan dan setelah kering siap dipakai

Perhatian : ridomil adalah suatu fungisida sistemik, penggunaan yang terus-menerus memungkinkan terjadinya strain cendawan yang resistem. CIBA – GFIGY tidak menjamin akibat kerusakan/ kehilangan hasil tanaman dalam menanggulangi strain cendawan yang resistem.

3
Revus Fungisida
Tipe                             :  250c
No. Pendaftaran          :  RI. 2794/4-2007/T
Bahan Aktif                :  Mandipropamid 250 g/i
Isi                                :  50 ml
Tanggal Produksi        :  Jak 7J01003 Sep
Peringatan Bahaya      :  Dapat menyebabkan keracunan  
                                        melalui kulit, mulut, dan mata 
Petunjuk Pengamanan :  Jauhkan dari jangkauan anak-
                                       anak
Petunjuk Penggunaan : Bacalah petunjuk penggunaan                                       selengkapnya untukmenggunakan
                                      fungisida
Pemegang Pendaftaran:  PT. Syngenta Indonesia Perkantoran Hijau Arkandia Tower C Lantai 9. Jln. TB Simatupang Kav. 88 Jakarta 12520. Telp. (021) 78836979, 867276

Fungisida protektif bersih sistemik lokal. Berbentuk pekatan yang larut dalam air, berwarna putih kecoklat-coklatan untuk mencegah dan menghentikan penyakit secara cepat pada tanaman bawang merah, cabai, kentang, ketimun, melon, semangka dan tomat.

4
Antracol Fungisida
Tipe                             : 70 WP
No Pendaftaran           :RI 74 / 7 – 95/ T
Bahan Aktif                : Gropineb 70 %

Cara membuat larutan : setelah ditakar dibuat dahulu larutan kental dengan air lalu ditambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil diaduk, sehingga didapatkan larutan yang merata. Larutan siap pakai ini harus segera digunakan , tidak boleh didiamkan sampai semalam.

5
Rovral Fungisida

Tipe                              : 50 WP
Bahan Aktif                 : Iprodion 50%
No. Pendaftaran          : RI. 614/2-2000/T
Pemegang Pendaftaran: PT. Rhone Poulenc Agrocalb
Peringatan Bahaya        : Dapat menyebabkan keracunan
                                         melaui mulut, kulit, dan mata
Petunjuk Pengamanan    :
Pada waktu membuka wadah, menuang atau menyemprotkan, pakailah sarung tangan, topeng muka dan pakaian berlengan panjang. Bila bagian badan terkena pada saat bekerja, berhentilah bekerja dan segera cuci sampai bersih.
Petunjuk Penggunaan :
Tanaman
Penyakit
Dosis
Waktu Aplikasi
Bawang
Penyakit Daun
Alterania solani
1-2 kg/ha
Pada waktu 2 minggu setelah tanam dan diulang dengan selang waktu 7 hari
Kentang
Busuk Daun
Phytophthora infestans
1 g/1vol
semprot
100ml/m2
Pada waktu 2 minggu setelah tanam dan diulang dengan selang waktu 7 hari
Tomat
Busuk Daun
Phytophthora infestans
1-2 g/lt
Pada waktu 2 minggu setelah tanam dan diulang dengan selang waktu 7 hari


6
ANVIL 50 SC
No pendaftaran           :  RI.896 1. 90 T
Bahan Aktif                :  Heksakonazol 50 g/I
Isi Bersih                     :  100 ml
Peringatan bahaya       :  Dapat menyebabkan 
                                       keracunan melalui mata, mulut,    
                                       dan kulit.
Gejala keracunan         :  keseimbangan badan hilang,  
                                       pusing, dan mual
Perawatan dokter        :  Lakukan pengobatan secara
                                       simtomatik

Fungisida sistemik bebrbentuk suspensi bewarna putih kecoklat-coklatan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman karet, kedelai, kopi, dan semangka

Petunjuk penggunaan
Tanaman/penyakit
Konsentrasi formula
Keterangan
Cendawan akar putih (karet)
2,5 ml/air/pohon
Penyiraman pada leher akar.  Selang waktu penyiraman 6 bulan
Kedelai
karat
0,5- 1 ml/air
Disemprotkan pada daun.  Selang waktu penyemrotan 7-10 hari

Kopi
Karat daun
1-2 ml/air
Disemprotkan pada daun.  Selang waktu penyemrotan 7-10 hari
Semangka
Embun bulu
0,25-0,5/air
Disemprotkan pada daun selang waktu penyemrotan 7-10 hari


7
ALLIETE 80 WP
No pendaftaran           :           RI 416/08-86/S
Bahan Aktif                :           alumunium, etil, fosfit 80%

Fungisida sistemik yang dapat ditranslokasikan ke atas dan ke bawah yang bekerja aktif setelah di serap oleh tanaman, berbentuk bubuk yang dapat disuspensikan dalam air bewarna putih kotor, untuk mengendalikan penyakit pangkal batang Phytophtora palmivora

Petunjuk penggunaan
Tanaman
Penyakit
konsentrasi
Waktu penyemprotan
Lada
Busuk kaki Phytophtora palmivora
40 gr Alliete 80 wp/l
Semprotkan pada daun-daun basah diulang 1 bulan sekali

 Peringatan bahaya : dapat menyebabkan keracunan melalui mulut, kulit, pernapasan serta dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata

8
DEROSAL 60 wp
No pendaftaran           :           RI 98/1-90/7

Petunjuk penggunaan
Tanaman/penyakit
Dosis
Waktu pemakaian
Karet/ Ceratocytis
300-1000 gr/ha
Interval 7 hari setelah terlahat gejala
Tebu
Penyakit noda kuning
500 gr
Interval 3 minggu aplikasi 3hari
9
Gandasil B

No. Pendaftaran          : P263/DEPTAN-PPI/III/2007
Isi                                : 100 gram
Distributor                   : PT. Kalatham P.O.Box. 2937
                                      Jakarta 10029
Anjuran Penggunaan   : Setelah tanam menunjukkan tanda-tanda pembentukan kuncup bunga. Gunakan sebanyak 10-30 gram/10 liter setiap 8-10 hari sekali tergantung dari keadaan setempat.  Dapat dicampur dengan jenis pestisida  kecuali yang bersifat alkalis
Komposisi                   : Nitrogen 6%, Fosfor 20%, P2O5N
                                 total  Kalsium 30% K2O,   
                                 Magnesium 3%
Berbentuk kristal yang larut dalam air dengan cepat dan sempurna. Dilengkapi dengan unsur-unsur mangan (Mn), boron (B), tembaga (Cu), kobal (Co), dan seng (Zn), serta vitamin untuk pertumbuhan tanaman             seperti : Aneurine, Lactoflavine dan Nicotine acid amide.

10
Delsene Fungisida
Tipe                 : Mx-80 WP
Tanggal           : May 10 PAC 08
No                   : RI 328 / 4-2007/7
Bahan aktif     : Karbendazim 6,2% , Mankozeb 73,8%
Alamat            : PT DuPont Agriculture Product Indonesia Beltway Office Park Gedung A, lt 5 Jl. Ampera Raya no 9-10 Jakarta 12550.   Telp 021-7803150 Fax 021-780350
Tanda bahaya  : (bahan iritasi)
Berat bersih     : 100 gram

Fungisida dan zat pengatur tumbuh sistemik dan kontak berbentuk tepung berwarna kuning, untuk mengendalikan penyakit jamur pada cabai, cengkeh, kacang tanah, karet.

Peringatan bahaya     : dapat menyebabkan keracunan
                                     melalui mulut, kulit, pernapasan
Petunjuk keamanan   : simpanlah di tempat yang aman
                                     dan jauhi dari jangkauan anak-
                                     anak
Gejala keracunan      : badan lemah, pusing, kulit
                                    terangsang, mata pedih dan perut
                                    mual.
Perawatan oleh dokter  : perawatan dilakukan secara
                                       simtomatik
Petunjuk pertolongan   : bila tertelan, usaha terus pemuntahandengan memberikan segelas air + 1 sendok garam, tinggalkan pakaian yang terkena fungisida, bila terkena mata dicuci dengan air bersih , apabila terhisap bawalah penderita ke dalam ruangan segar

Petunjuk penggunaan :
Tanaman / Penyakit
Dosis dan Formulasi
Cara Waktu
Padi Sawah
-Meningkatkan persen  gabah
Meningkatkan bobot kering gabah

1-2 g / L

300 lt/ha
Digunakan dua kali pada saat tanaman bunting
Penyakit bercak daun cercospora Sp
Blast Pyricularia oryzae, hawar pelepah
1-2 g/L

400-800 lt/ha
Padi umur 6,8 dan 10 minggu
-Cabai
Antraknosa Colletotrichum capsici
Bercak daun cerespora sp

1-2 g/L

400-800 lt/ha
Penyakit muncul dan diulang 7 hari
-Cengkeh
Cacar daun Phyllosicta sp
1-2 g/L
450-600 lt/ha
Setelah terjadi serangan dan ulanga dengan interval 19 hari
-Karet
Gugur daun colletotrichum gloesporiodies di pembibitan
1-2 g/L
500 lt/ha
Serangan ringan 6 kali, serangan berat 9 kali
-Kacang Tanah
Bercak daun cercospora sp
1-2 g/L
400-800 lt/ha
Pada umur 40,50,60,70,80 hari setelah tanam
-Kentang
Busuk daun phytoptora infestans
2-4 g/L
400-800 lt/ha
Umur 14 tahun selama tanam
-Tembakau
Rebah batang phytoptora sp, pythium sp
1-2 g/L
300-800 lt/ha
Waktu penyakit mulai muncul, diulang 7 kali sekali
Baik digunakan sebelum 2 tahun sebelum tanggal produksi
Keadaan darurat : 021-7228641 atau
                              0-800-1401288
Layanan Pelanggan  : 021-7803150



3.2  Pembahasan

Fungisida adalah senyawa kimia beracun untuk memberantas dan mencegah perkembangan fungi atau jamur. Penggunaan fungisida adalah termasuk dalam pengendalian secara kimia.
Adapun keuntungan yang diperoleh dari penggunaan fungisida adalah :
1.  Mudah diaplikasikan
2.  Memerlukan sedikit tenaga kerja
3.  Penggunaanya praktis
4.  Jenis dan ragamnya bervariasi
5.  Hasil pengendalian tuntas
( Djodjosumarto, 2000).

Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan), gas, butiran, dan serbuk. Perusahaan penghasil benih biasanya menggunakan fungisida pada benih, umbi, transplan akar, dan organ propagatif lainnya, untuk membunuh cendawan pada bahan yang akan ditanam dan melindungi tanaman muda dari cendawan patogen. Selain itu, penggunaan fungisida dapat digunakan melalui injeksi pada batang, semprotan cair secara langsung, dan dalam bentuk fumigan (berbentuk gas yang disemprotkan). Fungisida dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu fungisida selektif (fungisida sulfur, tembaga, quinon, heterosiklik) dan non selektif (fungisida hidrokarbon aromatik, anti-oomycota, oxathiin, organofosfat, fungisida yang menghambat sintesis sterol, serta fungisida sistemik lainnya) (Hriday Chaube, V.S. Pundhir, 2006)

Wadah adalah tempat yang terkena langsung pestisida untuk menyimpan selama dalam penanganan. Label adalah tulisan dan dapat disertai dengan gambar atau simbol, yang memberikan keterangan tentang fungisida, dan melekat pada wadah atau pembungkus fungisida.  Setiap fungisida harus terdapat didalam wadah dengan ukuran dan dibuat dari bahan sebagaimana yang ditetapkan dalam pembarian izin.  Dengan demikian setiap jenis fungisida yang resmi tempat atau wadahnya sudah ditentukan sejak pestisida tersebut didaftarkan.  Artinya membuat kemasan baru tidaklah dapat dilakukan oleh sembarang  pihak karena alasan peraturan yang berkaitan dengan keamanan dari pestisida tersebut.
Didalam label pestisida biasanya tercantum:
a.   Nama dagang formula; 
b.   Jenis fungisida;
c.   Nama dan kadar bahan aktif;
d.   Isi atau berat bersih dalam kemasan;
e.   Peringatan keamanan;
f.    Klasifikasi dan simbol bahaya;
g.   Petunjuk keamanan;
h.   Gejala keracunan;
i.    Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K);
j.    Perawatan medis;
k.   Petunjuk penyimpanan;
l.    Petunjuk penggunaan;
m.  Piktogram;
n.   Nomor pendaftaran;
o.   Nama dan alamat serta nomor telepon pemegang nomor pendaftaran;
p.   Nomor produksi, bulan dan tahun produksi (batch number) serta bulan dan
      tahun kadaluwarsa;

Sifat-sifat fungisida yaitu: (a) meracuni patogen sasaran; (b) tidak bersifat fitotoksit: (c) efek residunya minimal, agar tidak polusi; (d) tidak mudah terbakar; (e) tidak merusak alat; (f) dapat merata dan melekat pada daun; dan (g) aktif dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Macam-macam fungisida berdasarkan fungsinya yaitu
1. Protektan (sebagai pelindung), pemakaiannya sebelum infeksi dan
    fungisidanya bersifat kontak
2. Eradikan (menghilangkan), untuk menghilangkan sumber inokulum
3. Khemoterapetan (menyembuhkan), fungisida sistemik dan dapat
     menyembuhkan tanaman sakit

Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya. 
1.  Fungisida Nonsistemik
Fungisida nonsistemik tidak dapat diserap dan ditranslokasikan didalam jaringan
Tanaman. Fungisida nonsistemik hanya membentuk lapisan penghalang di permukaan tanaman (umumnya daun) tempat fungisida disemprotkan. Fungisida ini hanya berfungsi mencegah infeksi cendawan dengan cara menghambat perkecambahan spora atau miselia jamur yang menempel di permukaan tanaman. Karena itu, fungisida kontak berfungsi sebagai protektan dan hanya efektif bila digunakan sebelum tanaman terinfeksi oleh penyakit. Akibatnya, fungisida nonsistemik harus sering diaplikasikan agar tanaman secara terus-menerus terlindungi dari infeksi baru.

2.  Fungisida Sistemik
Fungisida sistemik diabsorbsi oleh organ-organ tanaman dan ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya melalui pembuluh angkut maupun melalui jalur simplas (melalui dalam sel). Pada umumnya fungisida sistemik ditranslokasikan ke bagian atas (akropetal), yakni dari organ akar ke daun. Beberapa fungisida sistemik juga dapat bergerak ke bawah, yakni dari daun ke akar (basipetal).
Kelebihan fungisida sistemik antara lain :
(a)  Bahan aktif langsung menuju ke pusat infeksi didalam jaringan tanaman, sehingga mampu menghambat infeksi cendawan yang sudah menyerang di dalam jaringan tanaman.
(b)  Fungisida ini dengan cepat diserap oleh jaringan tanaman kemudian didistribusikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bahan aktif dan residunya tidak terlalu tergantung pada coverage semprotan, selain itu bahan aktif juga tidak tercuci oleh hujan. Oleh karena itu, aplikasinya tidak perlu terlalu sering.

3.  Fungisida Sistemik Lokal
Fungisida sistemik lokal diabsorbsi oleh jaringan tanaman, tetapi tidak ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya. Bahan aktif hanya akan terserap ke sel-sel jaringan yang tidak terlalu dalam dan tidak sampai masuk hingga pembuluh angkut. 


Menurut mekanisme kerjanya, fungisida dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1.  Multisite Inhibitor
Multisite inhibitor adalah fungisida yang bekerja menghambat beberapa proses metabolisme cendawan. Sifatnya yang multisite inhibitor ini membuat fungisida tersebut tidak mudah menimbulkan resistensi cendawan. Fungisida yang bersifat multisite inhibitor (merusak di banyak proses metabolisme) ini umumnya berspektrum luas. Contoh bahan aktifnya adalah maneb, mankozeb, zineb, probineb, ziram, thiram.
2.  Monosite Inhibitor
Monosite inhibitor disebut juga sebagai site specific, yaitu fungisida yang bekerja dengan menghambat salah satu proses metabolisme cendawan, misalnya hanya menghambat sintesis protein atau hanya menghambat respirasi. Sifatnya yang hanya bekerja di satu tempat ini (spectrum sempit) menyebabkan mudah timbulnya resistensi candawan. Contoh bahan aktifnya adalah metalaksil, oksadisil, dan benalaksil.

Pengelompokan fungisida dapat di lakukan berdasarkan pada berbagai cara dan kepentingan yang berbeda sehingga pada umumnya bersifat tidak tetap.
Beberapa fungisida bersifat bersifat sebagai protektan dapat di gunakan pada benih atau tumbuhan yang belum  terserang penyakit,dengan tujuan melindungi benih dan menghindarkannya dari cendawan. Hal ini di sebabkan oleh spora pada permukaan atau di bagian dalamnya terdapat misellium yag berada pada keadaan dorman.
Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama.  Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

3. Debu (dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

4. Tepung (powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).

5. Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.











I.                   KESIMPULAN


Kesimpulan yangpada praktikum kali ini adalah sebagai berikut
1.  Fungisida adalah senyawa kimia beracun untuk memberantas dan mencegah
      perkembangan fungi atau jamur

2.  Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan), gas, butiran, dan
     serbuk

3.  Setiap wadah fungisida tercantum label berupa tulisan, gambar atau simbol
     yang berfungsi untuk memberikan keterangan dan informasi agar
     mempermudah pengguna fungisida

4.  Jenis fungisida dibedakan menjadi tiga jenis yaitu fungisida
      nonsistemik,sistemik dan sistemik lokal. 

5.  Sepuluh fungisida tersebut memiliki persamaan dan perbedaan masing-masing











DAFTAR PUSTAKA


Djojosumarto, Panut.  2000.  Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.  Kanisius.
Yogyakarta. Hal 46.

Hriday Chaube, V.S. Pundhir (2006).  Crop Diseases and Their Management.
Prentice-Hall of India Pvt.Ltd.  ISBN 978-81-203-2674-3.  Page.292-3

Nuraini, S.  2011.  Fungisida.  http://syienaainie.blogspot.com/.  Diakses pada
tanggal 13-11-2012


3 komentar: